Semesta

Tiara - 28 - ISFJ #MenujuSatuTitik

Recent Tweets @tiarasuciani
Posts I Like
Who I Follow

penaimaji:

Perhatian Seorang Kakak

Sore itu, aku membawa beberapa snack brownies untuk muridku di TPA. Kuhadiahkan sebagai reward untuk mereka yang selalu hadir dan menyempatkan mengaji setiap sore.

Hari itu, muridku yang hadir hanya tiga dari enam anak. Aku memberi satu-satu, setelah mereka membaca dan menulis. Lalu, kuberi waktu pada mereka untuk jeda sejenak, sambil bergurau satu sama lain. Yaaa sebelum menghafalkan doa-doa.

Kulihat satu muridku tidak memakan kuenya, dan ia simpan di wadahnya. Lalu kutanya,

“Kenapa nggak dimakan?”

“Gapapa”, jawabnya sambil tersenyum.

“Dimakan aja, itu bareng sama temennya”, kataku.

“Nanti aja, masih kenyang”, katanya.

Setelah kedua temannya selesai menghabiskan kue, kami lanjut menghafal dan mengulang kembali doa-doa harian. Setelah semuanya selesai, aku hadiahkan brownies lagi, satu-satu sebelum mereka pulang.

Muridku yang tadi, kukira akan memakan kuenya, namun kulihat ia menyimpannya lagi. Sampai temannya pun ikut bertanya kenapa tidak dimakan kue nya. Temannya itu mengajak untuk makan kue bersama-sama.

“Ayoklah syifa, kita makan kuenya”.

“Kena untuk ading ulun”, katanya.

Nanti untuk adikku, katanya.

Aku sontak terkejut mendengar jawaban si anak polos berumur tujuh tahun itu. Ternyata, ia menyimpan kue (yang hanya sedikit) untuk adiknya di rumah. Aku tersenyum. Betapa aku terharu mendengarnya.

Kupikir, perhatian seorang kakak seringkali dengan pengorbanan, meski dari hal-hal kecil. Ia tentu akan lebih senang memakan brownies berdua dengan adiknya, daripada ia makan untuk dirinya sendiri. Hal ini tentu tidak lepas dari peran orang tua yang baik dalam mendidik anak-anaknya.

Jika kita menganggap bahwa anak adalah investasi terbesar akhirat kita, maka kita tidak akan menganggapnya sebagai beban. Justru kita akan sungguh menyayangi dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kita akan berusaha memperbaiki diri; memberi contoh yang baik; juga mendidiknya dengan sebaik mungkin.

Bahkan semuanya diikhtiarkan sejak sebelum menikah, juga memilih pasangan.

Semoga setiap dari kita yang mengusahakan keturunan, bisa menjadi orang tua yang baik; serta menjaganya sebaik mungkin agar menjadi anak yang shalih, taat, serta memiliki rasa takut dan pengharapan kepada Rabbnya.

Draft yang ditulis di Buntok, 19 Januari 2021 | Pena Imaji

Semoga, kelak kaka hana akan menjadi kaka yg baik 🥰

Aamiin

image

28 tahun…

Baru saat ini aku merasakan apa yg dirasakan mu mah :“

Di hari ulang tahun ku ini, aku ingin mengucapkan terimakasih yg sebesar besarnya, tiada apapun dpt membalas semua kebaikan, kasih sayang, dan waktu yg mamah curahkan untuk ku.

Aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi ibu yang baik..

❤️❤️❤️

ajinurafifah:

Parenting : Dibalik Menunda Marah

Jadi, ceritanya sore tadi Shabira sedang menuang air dari botol besar ke dua gelas yang lebih kecil. Tapi nggak berhenti sampai situ, dia nuang lagi airnya ke meja. Tumpah-tumpah sampai lantai. Semua basah.

“Itu pelnya diambil kak. Asal nanti bertanggungjawab, Mama nggak papa.”

Shabira makin asyik menuang air. Wow.

Aku, yang emosinya sedang stabil meski Jogja lagi panas-panasnya, diam mengamati. Aku nunggu, kira-kira apa yang ada di pikiran Shabira saat ini. Karena dari tadi dia emang kaya lagi nguji kesabaran. Jadi aku putuskan untuk menang dari ujian ini😂

“Kak, kenapa dituang?” Tanyaku. Akhirnya bertanya haha.

“Dek Gam menuang kopi hingga membasahi meja…” Jawab Shabira.

Dek Gam itu nama salah satu tokoh di buku yang suka dia baca. Di buku itu memang diceritakan kalau Dek Gam nggak sengaja menumpahkan kopi yang dibikinkan ibunya. Kopinya membanjiri meja.

“Oh gitu…” dalam hati aku langsung bersyukur nggak kelepasan marah duluan. Meski sepele menurut kita sebagai orang dewasa, tapi ini capaian yang lumayan besar buat anak-anak.

Kenapa?

Pertama, Shabira berhasil mengingat jalan cerita. Kedua, dia sedang berlatih bermain peran (jadi Dek Gam)! Ketiga, dia sedang berusaha merangkai potongan cerita lewat adegan yang sedang dia perankan. Keempat, dia berusaha menceritakan kembali buku yang dia baca. Wow! Hal-hal tersebut bagiku penting karena itu artinya anak sedang berusaha memahami bacaan. Nggak cuma sekedar baca, tapi memaknai. Satu level di atas baca.

Selain itu, Shabira merasa dihargai, didengarkan, dan dipahami.

Dia lagi belajar. Aku nggak mau menghentikan stimulusnya dan kesempatan emas ini.

Lalu ayah datang,

“Kakak, kok tuang-tuang air? Bahaya! Nggak kaya gitu, ah.” Kata Ayah agak gusar.

“Itu Yah, Kakak lagi jadi Dek Gam yang nuang kopi…” Jawabku buru-buru. Aku takut Ayah kelepasan kesal padahal aku sedang membiarkan Shabira menikmati kegiatannya.

Untung Ayah lekas mengerti–atau pasrah saja sama kode dari tatapanku yang artinya, nggak papa, biarin aja, masih bisa aku handle–, atau mungkin malah keduanya. Hahaha

Ayah membiarkan kami, beliau masih berdiri di tempatnya sambil memegang gelas. Seperti menunggu kira-kira mauku dan Shabira apa.

“Habis numpahin air terus Mak gimana kak reaksinya ke Dek Gam?” Kataku sambil berkacak pinggang.

“Mak marah.”

“Ayo dibereskan! Kata Mak marah.” Aku berpura-pura jadi Mak.

“Terus sama Dek Gam dipel lantainya.” Sambung Shabira.

“Setelah itu Mak memandikan Dek Gam supaya nggak lengket, ya?”

“Iya supaya bersih…” kata Shabira.

Kesempatan! Sekalian bikin dia mau mandi tanpa drama hahaha.

Akhirnya aku menggiring Shabira mandi seperti Mak yang mandikan Dek Gam. Bedanya ini Shabira mandi sendiri wkwkwk.

Apa jadinya kalau aku nggak mendengar dia dulu? Apa jadinya kalau aku malah marah-marah? Ternyata seringkali kita perlu melihat dari sudut pandang anak sebelum benar-benar melepaskan emosi ‘marah’ itu…

Dibalik tingkah ajaibnya, anak selalu punya alasan.

Apa jadinya kalau Ayah nggak percaya sama aku, sama kami? Apa jadinya kalau ayah ketinggalan jauuuh sekali pemahamannya terkait menghadapi anak usia dini?

Ayah dan Ibu, suami dan istri. Satu tim. Komunikasi dan berbagi peran itu membawa banyaaaak sekali dampak positif di keluarga. Ayah posisinya emang nggak bisa sesering ibu ada di samping anak, menghargai Ibu yang menerapkan SOP dan aturan khusus dalam berbagai aspek parenting rasanya melegakan. Beberapa kali dapat curhatan juga, yang malah sering menjadikan anak bingung karena ortu tidak konsisten adalah ayah yang tiba-tiba 'ngacau’ kesepakatan yang udah mati-matian dibuat ibu selama di rumah hahahaha.

Lucu ya parenting itu. Naluri, pengetahuan, insting, perasaan, dan logika…beda kasus beda takaran. Sebagai orangtua dari hari ke hari belajar untuk lebih peka meramu, mana yang harus dipakai, berapa takarannya, berapa dosisnya, mana yang lebih penting, dan semuanya harus diputuskan dengan cepat. Wkwkwkwkk.

Aku bersyukur tadi nggak marah. Aku bisa belajar banyak hal. Terima kasih sabar, kamu memang selalu menang dan membawa maslahat.

Noted, insyaAllah akan diterapkan jg.

Sabar memang harus dinomor satukan ya. Setiap masa anak berkembang, bentuk sabarnya berbeda. Saat ini, sabarnya adalah menemani wake up time nya dgn hadir sepenuhnya, menimang, mengASIhi, dan sabar nunggu dia bobo 😂

penaimaji:

Adaptasi dalam Pernikahan

Tahun pertama menikah memang adaptasi dan itu bukan hal yang mudah. Pergantian peran yang mana tiap aktivitasnya membutuhkan pembiasaan, biar bisa masuk level pro wkwk. Mungkin kalau diniatin nggak karena Allah, beneran nggak kuat hoho~

Dulu nggak biasa ngelakuin pekerjaan rumah sendiri, sekarang semuanya sendiri; nyapu, ngepel, beres-beres, setrika, nyuci, jemur baju, nyiapin ini itu. Dulu nggak biasa masak, udah belajarpun kok masih sering zonk, sekarang mau nggak mau ya tetep harus belajar. Meski tangan sampe lecet, luka-luka karena masuk di dunia perdapuran dan perkamarmandian hahaha lemah sekale akoh

Beberapa hari yang lalu, aku sampe sedihhh banget gitu rasanya karena aku belum bisa masak, apalagi suami punya selera sendiri. Aku nelpon mama nangis-nangis dong, cuma bilang, “Aku nggak bisa masak, ma”.

“Terus kenapa kok nangis? Emang kamu dimarahin sama suamimu?”

“Enggak”, jawabku.

Ya pokonya aku pengen nangis aja wkwkwk. Walaupun dalam syariat Islam bukan kewajiban istri harus bisa masak, harus ngurusin semua pekerjaan rumah. Fitrah perempuan itu haid, hamil dan menyusui. Jadi di luar itu sebenarnya tugas suami, cuma kalau dilakukan sebagai bentuk pengabdian, istri dapet pahala. Yaaa kadang suami yang masak, malah aku yang diajarin begini dan begitu wkwk

Dulu terbiasa beraktivitas dan berkegiatan di luar rumah, sekarang hampir di rumah terus, dan bukan hal yang mudah buat aku. Hmm.. tapi seenggaknya di masa pandemi lewat setahun ini, aku jadi mulai terbiasa di rumah sendiri

Dulu suka ngelakuin apa-apa sendiri dan paling menghindari banget kalo ngerepotin orang lain. Sekarang mau nggak mau ya harus ngerepotin suami. Sampe suami bilang, “Kalo ada apa-apa tuh bilang, nggak usah sok kuat. Aku ini bukan orang lain, aku suamimu”. Wkwkkw dasar aku

Dulu selama aku hidup sendiri, jarang minta-minta orang tua, aku gengsi dan ga enakan. Biasanya nunggu kalo dikasih. Yah.. tabiat anak pertama selalu gitu, ya gimana haha. Sekarang kalo tabungan pribadi habis, mau minta duit ke siapa kalo nggak ke suami? Wkwkwk

Tulisan ini belum selesai kutulis di notes hp, trus dibaca dia. Eh dia malah nangis dong. Trus besoknya dia nanya,

“Capek ya kamu jadi ibu rumah tangga?”

“Mau aku jadi apa aja ya tetep capek. Nggak ada kerjaan yang bikin nggak capek. Mas kerja juga capek, kan?”, jawabku

Sebelum-sebelumnya, aku juga capek menjalani aktivitasku. Hanya saja sekarang capeknya berbeda. Saat sebelum menikah dengannya, aku sadar atas konsekuensi yang kujalani nanti,

“Karena nanti hidup mandiri, jauh dari keluarga, aku harus siap melakukan semuanya sendiri. Terutama masak dan nyuci yang bakal jadi tantangan buat aku. Semoga aku bisa, meski perlu penyesuaian yang agak lama”

Dalam pernikahan, tidak ada istilah timbal balik. You should give and give more. Nggak usah berharap balasan apapun. Nggak usah perhitungan sudah ngelakuin ini itu. Lakukan semua karena Allah, maka cinta itu akan semakin tumbuh dengan sendirinya.

Islam bahkan sudah mengatur hal-hal yang detail sekalipun, sampai yang terlihat sepele. Semisal lagi marahan. Sebelum tidur harus damai dulu, nggak boleh bikin suami marah karena malaikat akan melaknat si istri sampai shubuh.

Kalo dipikir pake logika dan ego-ego kita muncul, “lah ngapain sih, orang dia yang salah, kita marah sama dia”. Sulit sekali ya rasanya untuk taat. Butuh dorongan iman untuk lapang menerima syariat Allah.

Bukan hal yang mudah

Namun, kita harus berusaha menjadi yang terbaik, memberikan yang terbaik, meski masih banyak kekurangan yang kita miliki~

Buntok, 11 Agustus 2021 | Pena Imaji

Msh harus banyak belajar, menerima, memberi, memaafkan dan meminta maaf.

image

❤️❤️❤️

image

((konsekuensi kesalahan masa lalu))


-Alvi Syahrin

All you need is faith and patience…

Always comes at the right time…

30 hari bersanding denganmu,

Aku rasa, aku belum banyak mengenalmu karena aku belum bisa secara langsung memperhatikan setiap detail ekspresi dan tingkah laku mu setiap hari, namun yg aku tau kamu selalu berusaha untuk mengenalku lewat percakapan kita.


30 hari bersanding denganmu,

Aku msh meraba apa yg kamu suka dan tidak, namun sedikit-sedikit aku mencoba menerka saat kita berkomunikasi.


30 hari bersanding denganmu,

Aku merasa bersyukur bahwa kamu benar-benar memperlakukanku dengan sangat baik, oleh karena itu aku akan mencintaimu lebih baik lg dari hari ke hari.


Aku akui, 30 hari bersanding denganmu, cukup berat bagiku.

Ternyata jarak 2000 km lebih diantara kita cukup memberikan banyak tantangan bagiku.

Perasaan dan emosi tidak tenang, rasanya kurang lengkap baktiku.

Sebentar lagi, sabarlah wahai diri, itu yg aku katakan setiap hari.

Sebentar lagi, aku akan berada secara utuh disampingmu, sehingga aku bisa meninggikan baktiku padamu, meraih ridho dan surgaNya melalui ridhomu. Membersamai dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit.


#refleksi

image

Saat ini kita dititik temu yang sama,

Mencoba menyatukan satu titik dengan titik yg lain agar bisa menjadi garis yg baru.

Saat ini adalah masa mengukir impian dan harapan bersama.

Berbicara perlahan dari hati ke hati dgn penuh makna.

Menyelaraskan langkah dan rasa.

Ini baru awalnya.

Saat ini kita akan menyamakan doa, bermunajat bersama untuk memohon kepadaNya agar pernikahan ini senantiasa diberkahi.

Aamiin


Bogor, 26 September 2020

#NTMS


Percakapan selama perjalanan RS - Cibubur selama 45 menit ini memberikan makna yg lebih dalam, menjadi bahan refleksi diri sendiri bahwa tanpa disadari, semua telah didesain dgn begitu apik.


“Bener kata salah satu penerima beasiswa tir, ketika lu akan daftar beasiswa, lu akan menemukan jati diri lu.”


“Oiya? Gimana gtu?”


“Iya, pas gw nulis esay, jd refleksi perjalanan ke belakang, ternyata gw baru sadar, selama ini pilihan yg gw ambil menuju ke satu tujuan, ada benang merahnya gtu tir….”


“…dan kita, jd amaze sendiri ya in.”


“..nah iya bener tir. Ternyata yaa pada akhirnya setelah lu menimbang suatu pilihan dan niat yg tulus, lu tinggal percaya aja, bahwa skenarioNya yg paling terbaik.”

.

.

.


SkenarioNya yg terbaik :“)


Terimakasih atas percakapannya yg penuh makna ini ya ceu, jd bahan pengingat lg :D



Menuju Bogor, 8 Oktober 2020

jndmmsyhd:

Mengikat

Sekencang apapun hati manusia diikat, tetap akan lepas dan pergi, bahkan dalam kencangnya ikrar janji suci pun tetap bisa saja lepas. Ketahuilah, tali yang paling kuat untuk mengikat hati manusia itu doa, hanya saja lisan kita yang terlalu sombong untuk berdoa. Bukan hanya kamu yang mengikat, tapi keduanya, menyamakan doa dan tujuan. Tidak peduli seberapa jauh jarak dan seberapa berat jalan yang ditempuh, doa tetaplah kekuatan paling dahsyat dan tali paling kuat. 

Tapi doa tidak sebercanda lisan kita, ada hati yang harus yakin, ada lisan yang harus tulus, ada tekad yang harus bulat, dan ada kepasrahan yang begitu lembut. Doa tidak sebercanda manusia dengan lisannya.

@jndmmsyhd 

Semoga dan semoga

Menyamakan doa dan tujuan :)

Bismillah

#MenujuSatuTitik

image

:’)







#MenujuSatuTitik

image

Welcome September :’)


#MenujuSatuTitik

Ada yg hilang di ruang hatinya,

Entah bagaimana rasanya,

Namun sesaknya sungguh terasa,

Sesal tak berucap langsung,

Sesal tak langsung bertemu,

Namun secepat apapun meraih untuk bertemu, dia tak akan menunggu walau sedetikpun.

Dia, pengingat bagi yg hidup, bahwasanya apa-apa yg dimiliki hanya sesaat.


Tasikmalaya, 23 Agustus 2020